Ahli Genetika: Saatnya Mengawinkan Subspesies Badak Sumatera

by / Comments Off on Ahli Genetika: Saatnya Mengawinkan Subspesies Badak Sumatera / 19 View / June 7, 2018

  • Populasi badak sumatera yang hidup di Kalimantan dan Sumatera telah terpisah secara genetis ratusan ribu tahun.
  • Di alam liar, spesies ini secara keseluruhan berjumlah tidak lebih dari seratus ekor, atau hanya ada kurang lebih tiga puluh ekor. Sedangkan Sembilan ekor diantaranya berada dalam penangkaran.
  • Dalam penelitian terbaru mengenai DNA mitokondria badak sumatera, ahli genetika berpendapat sudah waktunya untuk menggabungkan subspesies-subspesies tersebut, meskipun ada potensi risiko dan kerugian (kegagalan).
  • Pendapat tersebut dikemukakan sejalan dengan rencana untuk menangkap badak betina di Kalimantan, Indonesia.

 

Di sebuah hutan di Kalimantan, seekor badak bercula dua, terpisah dari jenisnya. Ahli konservasi saat ini berencana menangkap badak sumatera ini (Dicerorhinus sumatrensis) dan membawanya ke penangkaran, dengan harapan badak betina ini mungkin bisa berkontribusi untuk menyelamatkan keberlanjutan spesiesnya.

Para ilmuwan dihadapkan dilema: Haruskah mereka mengawinkan dengan badak yang berada di penangkaran di Sumatera, meskipun kemungkinan dua subspesies yang sama sekali berbeda, yang belum dikawinkan dalam ratusan ribu tahun?

“Sayangnya, kondisi badak sumatera telah menjadi sangat buruk sehingga kami tidak dapat lagi berharap untuk mengelola subspesies secara terpisah,” kata Margaret Kinnaird, ahli badak dari WWF-Internasional. “Tidak ada cukup individu di setiap subspesies.”

Saat ini, para ahli konservasi memperkirakan, terdapat kurang dari seratus badak sumatera yang hidup di alam liar. Tetapi kenyataannya bisa lebih suram, diperkirakan yang terburuk, hanya sekitar tiga puluh individu.

Pada tahun 2012, ahli konservasi secara resmi mengumumkan kesediaan untuk mencampur subspesies, tetapi belum juga melaksanakannya hingga saat ini. Gagasan itu didukung oleh sebuah makalah baru dalam Journal of Heredity, yang meneliti genetika badak sumatera, berfokus pada DNA mitokondria. Seperti Kinnaird, penulis jurnal tersebut berpendapat bahwa sudah waktunya untuk menggabungkan subspesies, meskipun ada potensi risiko dan kegagalan.

“Saya tidak melihat cara lain untuk melestarikan gen-gen badak Kalimantan di antara badak yang hidup,” kata Alfred Roca, salah satu penulis makalah di University of Illinois di Urbana-Champaign. Namun, dia mengemukakan pendapatnya tersebut dengan enggan.

“Sebagai seorang ahli genetika, tidak seharusnya saya merekomendasikan penggabungan dua subspesies yang sangat berbeda.”

 

Tam, satu dari dua badak Kalimantan yang saat ini hidup di penangkaran badak di Malaysia. Foto: Jeremy Hance/Mongabay.com

 

Genetika penghasil subspesies

Sejarahnya, para ahli taksonomi membagi badak sumatera menjadi tiga subspesies: Satu di Sumatra dan Semenanjung Malaya, yang dikenal sebagai badak sumatera bagian barat (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis); satu lagi di Kalimantan – subspesies yang terkecil – dijuluki sebagai badak kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni); dan satu yang berada di India, Bangladesh, Bhutan dan Myanmar, yang disebut badak utara sumatera (Dicerorhinus sumatrensis lasiotis). Dari 39 sampel, badak hidup dan spesimen yang terdapat di museum, tim Roca menemukan pemisahan genetik yang mendalam antara subspesies ini berdasarkan sejarah hidupnya di masa lalu.

“Bisa dilihat para peneliti museum yang bekerja dengan tengkorak dan kaliper mendapatkan tiga subspesies dengan benar,” katanya.

Saat ini, subspesies badak utara sumatera kemungkinan sudah punyah, kepunahan tersebut diakibatkan oleh perburuan, penggundulan hutan dan ketidakmampuan untuk pulih dari populasi yang semakin berkurang.

Tidak ada yang tahu pasti, berapa banyak badak kalimantan liar yang tersisa, yang tentunya diprediksi tidak banyak. WWF telah memverifikasi dua atau tiga badak liar, tetapi menurut Kinnaird, ada sejumlah kawasan hutan yang mungkin masih menjadi tempat tinggal badak di Kalimantan, tepatnya di wilayah Indonesia di Kalimantan. WWF mengklaim ada 15 badak yang tersisa di Kalimantan, tetapi ini adalah perkiraan, bukan hasil survei pasti atas setiap individunya.

Menggabungkan subspesies yang masih hidup – Kalimantan dan Sumatera – akan memastikan pembentukan genetik unik. Tetapi itu juga berarti mencampur subspesies yang telah terpisah sekitar 300 ribu tahun, membuat mereka hampir sama berbedanya dengan Homo sapiens dari Neanderthal, kata Roca.

 

Sisa-sisa jasad (bangkai) dari badak sumatera Ipuh, yang menjadi ayah dari tiga anak badak di Kebun Binatang Cincinnati. Materi sampel genetiknya telah diawetkan secara kriogenik untuk digunakan penelitian dan menghasilkan anak badak baru di masa depan. Foto: Cincinnati Museum Center

 

Ada dua kekhawatiran jika mengawinsilangkan subspesies yang jauh berbeda. Yang pertama adalah, badak telah menyimpang begitu jauh dari satu sama lain sehingga mereka tidak dapat bereproduksi secara alami. Bahkan, jika mereka bertemu di alam liar. Namun, Roca percaya bahwa ini tidak mungkin terjadi.

Sedangkan disisi lain, dia menekankan bahwa, “Mungkin ada adaptasi lokal di antara badak kalimantan dan sumatera. Sebagai contoh, mereka mungkin telah berevolusi selama ribuan tahun untuk melawan patogen lokal di setiap pulau.”

Mengingat hal ini, Roca merekomendasikan sebuah rencana yang disarankan kepadanya oleh Spartaco Gippoliti dari Società Italiana di Storia della Fauna. Alih-alih mencampur subspesies itu, konservasionis harus membuat dua kelompok berbeda: satu yang hanya badak sumatera bagian barat dan satu lagi campuran sumatera-kalimantan. Setelah spesies distabilkan, badak barat yang ditangkap dapat dilepaskan di Sumatera sementara campuran badak kalimantan dapat dikirim ke Kalimantan untuk dikembangbiakkan ulang.

Rencana seperti itu akan membutuhkan lebih banyak badak dari jumlah yang saat ini terdapat di penangkaran. Saat ini, hanya ada dua badak di kalimantan di bawah penjagaan dan perawatan, dan keduanya tidak mampu berkembang biak secara alami. Di Sumatera menampung tujuh badak di penangkaran, tetapi hanya dua yang terbukti sebagai breeder (bisa bereproduksi). Dengan ini, sejumlah konservasionis mendorong untuk membawa sebanyak mungkin badak liar ke penangkaran untuk menciptakan lebih banyak anak-anak badak dari hasil kawin buatan. Mereka takut populasi liar akan hilang perlahan, seperti di banyak tempat lain, karena sangat sedikit badak liar yang berhasil berkembang biak.

“Jika badak sumatera memang bisa dibiakkan secara efektif di penangkaran dan populasi meningkat, maka tentu saja jawabannya adalah ya. Mereka semua harus dibawa ke lingkungan penangkaran,” kata Roca, meskipun ia mencatat bahwa ia bukan ahli dalam penangkaran. Tapi dia menunjuk contoh-contoh dari California condors dan black-footed ferrets sebagai analog yang sukses untuk penangkaran, menyelamatkan suatu spesies.

“Paling tidak, gamet (sel tidak berpasangan) dan garis sel harus dikumpulkan dari setiap badak Sumatera liar,” tambahnya.

 

Rosa, yang lahir di alam liar di Sumatra, sekarang tinggal di penangkaran Badak Sumatera di Taman Nasional Way Kambas. Foto: Terri Roth

 

Dari garis sel dan gamet

Perkembangbiakan badak sumatera mungkin tidak terjadi secara alami namun menjadi artifisial di masa depan, sehingga memungkinkan peneliti untuk menyuntikkan keragaman genetik yang beberapa dekade lalu masih tidak mungkin dilakukan. Mengumpulkan gamet saat ini, yaitu telur dan sperma, bersama dengan garis sel dapat memastikan populasi yang mungkin paling beragam secara genetis.

“Gamet saat ini dapat digunakan untuk inseminasi buatan, bahkan jika badak tidak secara fisik dipindahkan kedalam penangkaran,” kata Roca.

Tetapi garis sel mungkin memiliki lebih banyak potensi untuk menyuntikkan keragaman genetik ke populasi badak di masa depan. Roca mengatakan, sel yang diawetkan bisa menciptakan “gamet buatan” untuk 10 hingga 20 tahun kedepan. Saat ini, teknologi sudah tersedia untuk mengubah sel kulit biasa menjadi sel induk, dan ini sudah dilakukan untuk beberapa spesies badak. Langkah berikutnya, mengubah sel induk menjadi gamet buatan, namun hal ini belum dilakukan dan para ilmuwan saat ini masih mencobanya dengan tikus.

Suatu hari, para ahli konservasi dapat menggunakan genetika badak yang sudah lama mati, melalui jalur sel, untuk melahirkan bayi badak, kata Roca. “Hal ini bukan tidak mungkin, dan suatu saat akan sangat mungkin untuk dilakukan.”

Jika itu menjadi kenyataan, Roca mengulurkan kemungkinan bahwa populasi badak kalimantan bisa dikembangbiakkan. Berikut ini caranya: badak kalimantan dapat lahir melalui genetika yang diawetkan dan dimasukkan ke populasi campuran sumatera-kalimantan. Seiring waktu, badak dari Kalimantan akan mengambil alih genetika campuran sumatra-kalimantan, dalam sesuatu yang disebut model pulau-benua.

“Setiap generasi yang lewat, garis keturunan akan secara genetis menyerupai badak kalimantan semakin banyak, dan badak sumatera justru berkurang,” kata Roca, menambahkan.

 

Estimasi jumlah badak sumatera yang hidup di alam liar sangatlah bervariasi. Jumlah resminya ada 100, sementara skenario terburuk bisa hanya mencapai 30. Sembilan individu hidup di penangkaran di Indonesia dan Malaysia. Foto: Terri Roth

 

Kembali ke Kalimantan

Semua ini masih jauh, masa depan. Sampai hari ini, fokus pembiakan masih ada pada satu-satunya badak kalimantan di Kalimantan. Penangkapan untuk penangkaran yang sukses hampir tidak menjamin keberlangsungan hidup badak tersebut; pada tahun 2016, seekor badak tewas tak lama setelah ditangkap oleh tim yang dipimpin oleh WWF.

“Jika kami berhasil menangkap target badak di Kalimantan Barat, ia akan pergi ke penangkaran sementara yang telah didirikan di Kalimantan,” kata Kinnaird.

Dan badak itu mungkin tinggal di sana dalam pengawasan. WWF merencanakan perlindungan permanen, bernilai jutaan Dollar yang dibangun mengikuti setelah Sumatran Rhino Sanctuary di Sumatera. Tetapi pertanyaannya tetap: Akankah ada badak untuk mengisinya? Dan apakah ini langkah terbaik dari untuk setiap individu badak yang tertangkap?

Kinnaird mengatakan, jika badak tersebut tetap di Kalimantan Barat, hal itu masih berpotensi dikombinasikan dengan subspesies sumatera bagian barat dengan dibaginya telur atau sperma. Tetapi sampai saat ini, fertilisasi in vitro belum berhasil pada badak sumatera.

Sejauh ini, satu-satunya yang berhasil, namun belum sesuai ekspektasi, adalah melalui pembiakan alami.

“Pendapat pribadi saya adalah dia harus dikirim ke tempat penangkaran di sumatera agar bisa berkontribusi pada pembibitan,” kata Kinnaird.

Jika demikian, badak tersebut dapat segera dikembangbiakan – tidak hanya dalam telur dan jalur sel yang diawetkan, tapi juga dalam pembiakan alami.

 

Penerjemah: Akita Arum Verselita. Artikel Bahasa Inggris di Mongabay.com dapat Anda baca di tautan ini.

 

Citation:

  • Jessica R. Brandt, Peter J. van Coeverden de Groot, Kelsey E. Witt, Paige K. Engelbrektsson, Kristofer M. Helgen, Ripan S. Malhi, Oliver A. Ryder, and Alfred L. Roca. (2018) Genetic Structure and Diversity Among Historic and Modern Populations of the Sumatran Rhinoceros (Dicerorhinus sumatrensis). Journal of Heredity, 1–13. doi:10.1093/jhered/esy019

Foto utama: Ratu dan Delilah, badak sumatera di SRS, Way Kambas, Sumatera. Foto: Rhett Butler/Mongabay.com

Related Posts

  • 75
    NAIROBI - Sudan, seekor badak putih utara jantan terakhir yang tersisa di dunia ini telah mati di Kenya pada usia 45 tahun setelah disuntik mati. Sekarang tinggal ada dua badak putih betina anggota dari subspesiesnya yang tersisa. Matinya badak putih utara jantan terakhir di dunia itu diumumkan para konservasionis yang merawatnya…
    Tags: yang, di, dan, badak, ini, untuk, dari
  • 72
    Dunia kehilangan hampir 150.000 individu orangutan dari Pulau Kalimantan dalam 16 tahun terakhir akibat hilangnya habitat dan pembunuhan. Berikutnya, diperkirakan, kita akan kembali kehilangan 45.000 individu lainnya pada 2050, berdasarkan studi di Jurnal Current Biology. Penelitian yang dipublikasikan 15 Februari 2018 ini, mengamati 36.555 sarang orangutan di seluruh Kalimantan -sebuah pulau yang…
    Tags: di, dan, yang, kalimantan, ini, dari, untuk