Air untuk Kesejahteraan, Refleksi Peringatan Hari Air Sedunia

by / Comments Off on Air untuk Kesejahteraan, Refleksi Peringatan Hari Air Sedunia / 43 View / March 21, 2019

AIR merupakan benda yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.

Dalam peradaban masyarakat kita saat ini, kita membutuhkan air setiap hari baik untuk keperluan memasak, mencuci maupun sanitasi, bahkan untuk aktivitas ekonomi (pertanian, industri, dan sebagainya).

Di wilayah kita, air bahkan kita gunakan sebagai pembangkit listrik. Dan tentu yang teramat penting, air kita gunakan untuk minum.

Konon katanya, manusia normal dapat bertahan hidup tanpa minum air hanya selama kurang lebih 3 hari. Pernahkah terbayang oleh kita seandainya air di wilayah kita tiba-tiba habis?B

Kalimantan Selatan merupakan wilayah yang surplus air baku. Namun surplus air baku tidak menjamin masyarakat memiliki akses yang mudah terhadap air bersih siap pakai.

Bagi masyarakat, yang lebih penting adalah kemudahan dalam mengakses air bersih. Karena dengan kemudahan dalam mengakses air bersih, masyarakat bisa fokus untuk memikirkan dan melakukan hal-hal penting lainnya dalam kehidupan mereka seperti bekerja, sekolah, dan berbagai kegiatan lain yang bermanfaat untuk kemajuan bangsa.

Bagaimana masyarakat bisa fokus bekerja atau belajar atau melakukan aktivitas penting lainnya jika air di rumah mereka tidak tersedia selama berhari-hari, sehingga mereka tidak mandi berhari-hari. Pakaian mereka tidak dicuci berhari-hari, mereka tidak beristinja menggunakan air bersih, dan tidak bisa mengkonsumsi air sehat?

Jika wilayah kita mengalami krisis air bersih seperti itu, mungkin wilayah kita hanya bisa bertahan selama seminggu, setelah itu wilayah kita akan lumpuh.B

Mungkin sebagian dari kita menganggap krisis air bersih seperti itu tidak mungkin terjadi di wilayah kita. Apalagi jika terjadi pada tataran makro dengan skala yang masif. Namun pernahkah kita mengalami kelangkaan air bersih di rumah kita sendiri akibat misalnya aliran air yang macet dari perusahaan air (PDAM) yang kita langgan?

Atau mengalami kelangkaan air bersih akibat sumur rumah kita yang mengering? Atau mengalami kelangkaan air bersih akibat sungai yang biasa kita ambil airnya mengalami pencemaran? Atau mengalami kelangkaan air bersih akibat mengecilnya debit mata air pegunungan? Jika kita pernah mengalami kelangkaan air bersih pada skala mikro seperti itu, maka tidak tertutup kemungkinan krisis air bersih pada skala makro di wilayah kita juga bakalan terjadi.

Karena sejatinya, krisis apapun selalu dimulai dari hal-hal kecil yang terakumulasi, yang tidak diantisipasi dengan baik.

Mungkin juga sebagian dari kita tidak mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih. Tapi pernahkah terpikir oleh kita, bahwa masih banyak masyarakat di wilayah kita yang mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih?

Bagaimana wilayah kita bisa maju jika masih banyak masyarakat yang sekadar air bersih saja masih sulit mengaksesnya? Kondisi seperti ini tentu menjadi beban wilayah. Karena penggerak kemajuan suatu wilayah adalah masyarakatnya.

Wilayah kita akan terseok-seok mencapai kemajuan jika urusan-urusan yang dasar seperti masalah air ini belum selesai. 

Bersumber dari publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat 2018, yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan, masih ada 1,5 persen rumah tangga di Kalimantan Selatan yang sumber air minum utama mereka berasal dari air hujan.

Masih dari sumber yang sama, terdapat 7,91 persen rumah tangga yang mengonsumsi air minum dengan kondisi keruh, dan terdapat 2,39 persen rumah tangga yang mengonsumsi air minum dengan kondisi berbau.

Hal ini seharusnya menjadi perhatian kita bersama. Mengapa? Karena menyangkut kemajuan wilayah kita. Ketika wilayah kita maju, tentu akan berdampak balik pada kenyamanan hidup kita sendiri.

Maka wajarlah jika organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menggunakan tema “Leaving No One Behind” dalam peringatan hari air sedunia tahun 2019 ini, yang jatuh pada tanggal 22 Maret.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Peduli. Kita hanya perlu peduli. Tanpa kepedulian kita terhadap permasalahan publik, wilayah kita akan selalu tertinggal dengan wilayah-wilayah lain.

Tanpa kepedulian kita terhadap permasalahan publik, wilayah yang maju hanyalah sekadar impian. Ujung-ujungnya, kenyamanan kehidupan pribadi kita tidak optimal.

Akibatnya masyarakat kita menjadi kurang produktif. Akibatnya pertumbuhan ekonomi wilayah akan terhambat karena turunnya produktivitas masyarakat.

Akibatnya anak cucu kita kalah bersaing dengan orang-orang dari wilayah lain yang tumbuh besar di wilayah maju. Dan begitu banyak lagi akibat-akibat turunannya.

Memang seyogianya permasalahan air adalah urusan publik yang menjadi kewajiban pemerintah dalam pemenuhannya. Kita bisa menuntut pemerintah untuk mengatasi permasalahan publik. Maka kita bisa menggunakan people power.

Selain itu, kita juga bisa menggunakan media mainstream dan media sosial untuk penyadaran masyarakat dan bergerak bersama.

Namun kita bisa memulainya dari diri kita sendiri, dengan menjalankan gaya hidup peduli lingkungan: tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan sungai, hemat air, hemat listrik, mengurangi pemakaian kantong plastik, membawa botol minum sendiri, menanam pohon, dan aktivitas peduli lingkungan lainnya.

Dan yang tidak kalah penting, dalam upaya mewujudkan kepedulian kita pada permasalahan publik ini, adalah menggunakan hak suara kita untuk memilih pemimpin eksekutif dan anggota legislatif yang benar-benar peduli terhadap urusan publik, termasuk urusan air. (Aspiansyah Tibyan, Pemerhati Ekonomi Kalimantan Selatan)



Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Air untuk Kesejahteraan, Refleksi Peringatan Hari Air Sedunia, http://banjarmasin.tribunnews.com/2019/03/21/air-untuk-kesejahteraan-refleksi-peringatan-hari-air-sedunia?page=3.

Editor: Rendy Nicko


Related Posts

  • 47
    Johannesburg - Tahun 2015, polisi di ibu kota Mozambik,Maputo, menangkap sekelompok pria dan menyita cula badak, sejumlah besar dolar, segepok mata uang lokal, dan -yang agak tidak biasa- empat karung beras. Dua pria yang ditangkap adalah warga Korea Utara yang mengaku sebagai diplomat yang bertugas di Afrika Selatan. Uang jaminan untuk…
    Tags: yang, dan
  • 44
    KOMPAS.com - Tidak bisa disangkal lagi bahwa manusia turut andil dalam memusnahkan sejumlah besar spesies di planet ini. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Proceedings from the National Academy of Sciences (PNAS) menunjukkan bahwa manusia hanyalah 0,01 persen dari populasi makhluk hidup di dunia, tetapi mereka juga bertanggung jawab menghancurkan 83%…
    Tags: yang, kita, dan, tidak