Dinanti, Peran Generasi “Zaman Now” pada Upaya Penyelamatan Lingkungan

by / Comments Off on Dinanti, Peran Generasi “Zaman Now” pada Upaya Penyelamatan Lingkungan / 19 View / April 22, 2018

Generasi “zaman now” memiliki pengaruh besar pada upaya penyelamatan lingkungan. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berharap, generasi “zaman now” memberikan efek positif terciptanya lingkungan hidup Indonesia yang lebih baik melalui sebaran informasi yang cerdas dan terkini.

Wirato, Dirjen KSDAE mengatakan, manusia masih bergantung pada sumber daya hutan. Pengetahuan mengenai hutan, harus terus digalakkan. “Kalau bicara hutan, harus dengan hati. Kerja di hutan itu bukan sekadar terlibat, tapi kenali dan rasakan betapa kita membutuhkannya,” katanya di hadapan puluhan mahasiswa di Samarinda, Kalimantan Timur, baru-baru ini.

Wiratno menjelaskan, anak muda zaman sekarang harus tahu, hutan di Kalimantan Timur dulunya rimba. Dihuni banyak pohon besar, satwa langka, dan sumber alamnya luar biasa. “Kita punya orangutan, pesut, juga kayu ulin bahkan ladang minyak. Sumber daya alam yang lengkap. Tapi perlahan, semua berkurang. Seperti hutan, sawit di mana-mana, yang akhirnya mengawali pembukaan lahan besar-besaran.”

Sebenarnya, kata dia, untuk menjaga belantara Kalimantan Timur, semua pihak harus bahu-membahu dan saling mendukung. Bersinergi, mulai dari pemerintah kabupaten dan provinsi, swasta, perguruan tinggi, hingga lintas kementerian. “Kalau tidak begitu, semua akan timpang. Ini untuk kebaikan kita.”

Menyinggung masalah perambahan di taman nasional atau kawasan konservasi, Wiratno menjelaskan, selalu ada jalan keluar untuk sebuah masalah. Dia mengatakan, perlu ada kerja sama dengan masyarakat lokal dan berbagai pihak, jangan sampai menimbulkan konflik. Prinsipnya, berpegang teguh pada kelestarian lingkungan, sosial, dan ekonomi.

“Penting diperhatikan adalah proses pendampingan dari hulu ke hilir, membangun keterpaduan program antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, swasta dan masyarakat. Untuk itu, kita mulai dari generasi muda, mari kita bersama menjaga hutan dan mengembalikan hutan seperti sedia kala,” tuturnya.

CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, mengajak generasi zaman now untuk kampanye hutan dan satwa dilindungi melalui media sosial. “Anak muda sekarang lebih cerdas, cepat berbagi informasi. Dari pada heboh membaca berita hoaks, lebih baik menyebarkan berita lingkungan. Lebih bermanfaat, karena hutan dan isinya itu kita butuhkan untuk hidup.”

Senjata utama kampanye adalah telepon seluler. Melalui alat canggih itu, segala informasi dapat diakses. Berita mengenai kerusakan lingkungan sudah banyak, sehingga penyelamatan harus dilakukan. “Jangan sebarkan info yang tidak jelas, lebih baik ajak orang lain ikut peduli lingkungan. Dengan begitu, geberasi zaman now sudah membuat perubahan.”

Sedikit menyinggung masalah orangutan, Jamartin mengisahkan orangutan-orangutan tanpa induk yang harus masuk sekolah konservasi. Seperti anak manusia yang kehilangan ibu, anak orangutan juga tidak bisa apa-apa tanpa induknya. Apalagi, luas hutan terus berkurang yang tentunya menjadi masalah besar bagi kehidupan mereka.

“Kalau tidak ada hutan, orangutan mau tinggal dimana? Karena itu, generasi muda harus bantu selamatkan orangutan. Generasi milenial harus bijak menggunakan media sosial,” katanya.

Pesut mahakam yang populasinya diperkirakan tidak banyak lagi. Sumber foto: akun Facebook RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia)

Kepala Balai Taman Nasional Kutai, Nur Patria Kurniawan, turut kampanye orangutan. Dia berharap, generasi muda Indonesia dapat menularkan informasi, khususnya orangutan di Kalimantan Timur (Pongo pygmaeus morio) pada dunia luas melalui internet positif. “Ayo mulai sekarang kita kenalkan orangutan pada semua orang, kita jaga juga hutan sebagai habitatnya.”

Nur Patria juga menuturkan masalah pembukaan lahan yang kerap menimpa Taman Nasional Kutai. Dia minta generasi muda di Kalimantan Timur untuk tidak lagi membicarakan kerusakan lingkungan, tapi pada pembangunan ekowisata berbasis konservasi, edukasi, rekreasi, dan medikasi. “Taman Nasional Kutai sudah merilis Bontang Mangrove Park (BMP). Konservasi mangrove ini juga merupakan hutan edukasi dan rekreasi. Setiap sore banyak waga lokal datang mencari udara segar, mengingat Bontang merupakan daerah industri. Jadi, silakan datang,” tandasnya.

sumber: mongabay.co.id

 

Related Posts

  • 63
    Johannesburg - Tahun 2015, polisi di ibu kota Mozambik,Maputo, menangkap sekelompok pria dan menyita cula badak, sejumlah besar dolar, segepok mata uang lokal, dan -yang agak tidak biasa- empat karung beras. Dua pria yang ditangkap adalah warga Korea Utara yang mengaku sebagai diplomat yang bertugas di Afrika Selatan. Uang jaminan untuk…
    Tags: yang, dan, di, untuk
  • 61
    Dunia kehilangan hampir 150.000 individu orangutan dari Pulau Kalimantan dalam 16 tahun terakhir akibat hilangnya habitat dan pembunuhan. Berikutnya, diperkirakan, kita akan kembali kehilangan 45.000 individu lainnya pada 2050, berdasarkan studi di Jurnal Current Biology. Penelitian yang dipublikasikan 15 Februari 2018 ini, mengamati 36.555 sarang orangutan di seluruh Kalimantan -sebuah pulau yang…
    Tags: di, dan, orangutan, yang, kalimantan, dari, untuk, hutan