Kutai Barat, Rumah Terakhir Badak Sumatera di Tanah Borneo

Usaha perlindungan badak terus dilakukan di Indonesia, yang merupakan rumah dua spesies badak dari lima spesies yang ada di dunia. Kedua spesies ini adalah badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Tahun 2013 menjadi tahun dengan sebuah penemuan yang mengejutkan banyak pihak di dunia konservasi. WWF-Indonesia menemukan jejak badak di Kalimantan pada saat melakukan survey orangutan. Badak yang ditemukan ini masih berkerabat dengan badak sumatera.

Badak sumatera sendiri diklasifikasikan dalam tiga subjenis berdasarkan persebarannya. Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis dengan daerah persebaran di Sumatera, Malaysia, dan Thailand, Dicerorhinus sumatrensis harrissoni yang merupakan subjenis badak yang ditemukan di wilayah Kalimantan, dan Dicerorhinus sumatrensis lasiotis yang terdapat di Vietnam, Myanmar bagian utara hingga Pakistan bagian timur. Namun pada subjenis Dicerorhinus sumatrensis lasiotis, beberapa peneliti badak menyebutkan keberadaan subjenis ini sudah tidak terlihat lagi sejak puluhan tahun lalu.

Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan jenis  yang paling terancam dari semua jenis badak yang ada di dunia dengan status terancam punah (critically endangered) dari IUCN. Badak sumatera tersebar luas di Asia Tenggara dan Asia Selatan, namun populasinya sekarang hanya berpusat di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Perburuan liar dan hilangnya habitat merupakan beberapa penyebab utama penurunan drastis populasi badak dalam 30 tahun terakhir, dari 800 individu menjadi hanya kurang dari 100 individu yang ada saat ini.

Di tanah Borneo, keberadaan badak sumatera ini tersebar di Kutai Barat, Indonesia dan Sabah, Malaysia namun sayangnya tidak ada lagi badak sumatera yang tersisa di Malaysia setelah kematian Iman, badak betina terakhir yang ada di BORA (Borneo Rhino Alliance), Taman Nasional Tabin Sabah tersebut.  Iman mati akibat tumor rahim yang dideritanya pada 23 November 2019 dalam usia 25 tahun. Kematiannya menegaskan kepunahan badak sumatera di Malaysia. Sebelumnya kematian  Kertam, badak sumatera jantan juga terjadi di BORA pada tahun yang sama, tepatnya tanggal 27 Mei 2019 yang mati karena faktor usia (30 tahun). Dua tahun sebelumnya, Puntung (25 tahun), badak sumatera betina yang berada di BORA pun mati, pada 4 Juni 2017, akibat kanker sel squamata yang dideritanya dan terpaksa harus ditidurkan (euthanasia).

Di Kutai Barat, diperkirakan terdapat sekitar 12-15 ekor badak sumatera, dengan satu ekor badak betina yang telah berhasil ditangkarkan bernama Pahu dan satu ekor betina lainnya bernama Pari yang berhasil ditangkap oleh kamera jebak. Habitat yang disukai oleh badak sumatera ini adalah hutan sekunder meskipun pada pada kondisi aslinya habitat tersebut juga tersusun oleh semak belukar.

Hutan sekunder terbentuk sebagai konsekuensi dari aktivitas penebangan perkebunan kayu. Indonesia memiliki peraturan yang ketat mengenai penebangan dari hutan alami. Pohon dari perkebunan kayu diperbolehkan untuk ditebang jika telah mencapai diameter lebih dari 50 cm dan tidak boleh melakukan penebangan di area yang sama hingga 25-30 tahun ke depan. Saat ini, habitat badak sumatera di Hutan Kutai Barat berada pada daerah yang terakhir kali dilakukan penebangan pada tahun 1990-an silam sehingga vegetasinya telah beregenerasi dengan baik dan berubah menjadi hutan sekunder tua.

Sayangnya, illegal logging yang masih terjadi meskipun tidak sering, memberikan pengaruh terhadap proses regenerasi sehingga hutan sekunder ini terganggu. van Strien (1985) menyebutkan bahwa tipe habitat ideal untuk badak sumatera adalah hutan sekunder tua tanpa adanya intervensi dari manusia. Hal ini semakin mengancam keberadaan badak sumatera di Kalimantan yang jumlahnya sangat sedikit. Selain itu, badak sumatera yang terpisah di 3 kantong area hutan ini menyebabkan kemungkinan badak untuk berkembang biak dan menambah populasinya menurun. (sumber foto : kompas.com)

Referensi :

Havmoller RG, Payne J, Ramono W, Ellis S, Yoganand K, Long B, Dinerstein E, Williams AC, Putra RH, Gawi J, Talukdar BK, Burgess N. 2015. Will current conservation responses save the Critically Endangered Sumatran rhinoceros Dicerorhinus sumatrensis?. Oryx 50: 355-359.

ksdae.menlhk.go.id. (20 Maret 2019). Pers Release Pelepasan Badak “Pahu” Ke Suaka Badak Kelian. Diakses pada 20 September 2021, dari http://ksdae.menlhk.go.id/publikasi-press-release/Pelepasan+Badak+%E2%80%9CPahu%E2%80%9D+Ke+Suaka+Badak+Kelian

Mays HL, Hung CM, Shaner P, Denvir J, Justice M, Yang SF, Roth TL, Oehler DA, Fan J, Rekulapally S, Primerano DA. 2018. Genomic analysis of demographic history and ecological niche modeling in the endangered sumatran rhinoceros Dicerorhinus sumatrensis. Curr Biol 28: 1-7.

Miller PS, Lees C, Ramono W, Purwoto A, Rubianto A, Sectionov, Talukdar B, Ellis S. 2015. Population Viability Analysis for The Sumatran Rhino in Indonesia. IUCN/SSC Conservation Breeding Specialist Group, Apple Valley.

Mongabay.co.id. (29 November 2018). Sesuai Harapan, Badak Sumatera di Kalimantan Timur Berhasil Diselamatkan. Diakses pada 20 September 2021, dari https://www.mongabay.co.id/2018/11/29/sesuai-harapan-badak-sumatera-di-kalimantan-timur-berhasil-diselamatkan/

Mongabay.co.id. (25 November 2019). Diakses pada 20 September 2021, dari https://www.mongabay.co.id/2019/11/25/punah-badak-sumatera-di-malaysia-menyisakan-cerita/ 

Mukhlisi, Ningsih TS, Sari UK, Kurniawan Y, Setiawan R, Muslim A.  2018. Habitat utilization of the Sumatran rhinos (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) in Kutai Barat forest, East Kalimantan, Indonesia. BIODIVERSITAS 19 (5): 1842-1850.

Nardelli F. 2014. The last chance for the Sumatran rhinoceros?. Pachyderm 55: 43-53.

van Strien NJ. 1985. The Sumatran Rhinoceros Dicerorhinus sumatrensis (Fischer, 1814) in the Gunung Leuser National Park, Sumatra, Indonesia: Its distribution, Ecology, and Conservation. [Dissertation]. Wageningen University, Netherland.

Leave a Reply

Your email address will not be published.