Pemkab Sintang Berharap Perusahaan Jaga Kawasan NKT Lembaga Titian Gelar Workshop Pengelolaan dan Monitoring Kawasan NKT

by / Comments Off on Pemkab Sintang Berharap Perusahaan Jaga Kawasan NKT Lembaga Titian Gelar Workshop Pengelolaan dan Monitoring Kawasan NKT / 190 View / October 15, 2014

Workshop penerapan praktek terbaik dalam pengelolaan dan monitoring kawasan bernilai konservasi tinggi pada lansekap Kabupaten Sintang yang dilaksanakan Lembaga Titian, di Balai Praja.

SINTANG I Senentang news.com- Pemerintah Kabupaten Sintang berharap perusahaan perkebunan yang berinvestasi di Kabupaten Sintang dapat membina dan mengembangkan kawasan bernilaikonservasi tinggi (NKT) atau High Concervation Value (HCV) dalam wilayah izin usaha perkebunannya.

“Karena salah satu prinsip dasar dari HCV adalah wilayah-wilayah dimana ditemukan atribut yang punya nilaikonservasi tinggi tidak selalu menjadidaerah dimana pembangunan tidak boleh dilakukan, sebaliknya konsep HCV mensyaratkan agar pembangunan dilaksanakan dengancara yang menjamin pemeliharaan dan atau peningkatan HCV tersebut,” ujar Elisa Gultom, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sintang mewakilin Bupati Sintang membuka acara workshop penerapan praktek terbaik dalam pengelolaan dan monitoring kawasan bernilai konservasi tinggi pada lansekap Kabupaten Sintang, Senin (9/6).

Kegiatan yang dilaksanakan di Balai Praja Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang oleh Lembaga Titian didukung The Asia Foundation berlangsung selama dua hari dan diisi sejumlah pembicara diantaranya Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), periset Lembaga Titian dan juga dari Environmental Law Clinic.

Menurutnya, pendekatan HCV berupaya membantu masyarakat menjaga keseimbangan rasional antara keberlanjutan lingkungan hidup dengan pembangunan ekonomi jangka panjang, meski HCV ini pada awalnya untuk pengelolaan hutan produksi, dengan cepat menjadi populer dan digunakan dalam berbagai konteks yang lain.

“Disektor publik HCV digunakan untuk sebagai alat perencanaan untuk meminimalisasi dampak-dampak ekologi dan sosial yang negatif dalam pembangunan,” jelasnya.

Gultom mengatakan dari total 2,24 juta hektar luas Kabupaten Sintang, 1,22 juta hektar diantaranya merupakan kawasan hutan, sedangkan sisanya 0,83 hektar merupakan kawasan pertanian lahan kering atau areal penggunaan lain (APL) yang diperuntukkan bagi aktivitas pertanian termasuk pengembangan perkebunan.

“Dari luasan APL tersebut, hingga Mei 2014 sudah diberikan izin lokasi seluas 552,510 hektar kepada 49 perusahaan perkebunan dan 37 perusahaan diantaranya sudah diberikan izin usaha perkebunan dengan luas 60.604 hektar,” jelasnya.

Namun menurutnya realisasi penanaman baru mencapai 130.612,27 hektar atau 21,50 persen dari luas IUP yang telah diberikan.

Sementara, Direktur Lembaga Titian Sulhani mengatakan High Conservation Value Forest (HCVF) merupakan konsep yang pada awalnya dipergunakan oleh Forest Stewarship Council (FSC) untuk sertifikasi hutan, memandang bahwa pada dasarnya semua hutan memiliki nilai-nilai lingkungan dan nilai sosial yang harus dikelola dengan tepat agar dapat terjaga atau ditingkatkan nilai konservasi tinggi (NKT) yang ada di dalam unit kelola.

“Nilai konservasi tinggi didefinisikan sebagai suatu nilai biologi, ekologi, sosial atau budaya yang dianggap sangat penting pada skala nasional, regional dan global sebagaimana yang didefinisikan dalam Toolkit HCVF (Proforest 2003) nilai-nilai inilah yang sangat penting untuk dilindungi,” ujarnya.

Hutan dengan nilai konservasi tinggi secara sederhana adalah kawasan hutan dimana nilai-nilai penting secara ekologi dan sosial dapat ditemukan.

“Dengan teridentifikasinya NKT, pengelola hutan atau lahan dapat merencanakan dan melaksanakan pengelolaan untuk dapat mempertahankan atau meningkatkan NKT yang diidentifikasi tersebut dan mengembangkan program pemantauan untuk memeriksa apakah tujuan pelaksanaan pengelolaan ini dicapai,” ucapnya.

Pembangunan di Kabupaten Sintang seharusnya kata dia diartikan sebagai suatu investasi untuk masa depan yang mampu menciptakan produktivitas jangka panjang, sehingga perlu diperhatikan pemeliharaan proses-proses ekologis utama dan sistem penunjang kehidupan, konservasi keragaman genetik, dan pemanfaatan jenis dan ekosistem secara berkelanjutan. Untuk menunjang ketiga hal diatas maka perlu dilakukan identifikasi sumber-sumber daya alam/hutan yang memiliki nilai- nilai konservasi tinggi.

“Dalam upaya untuk berkontribusi pada penurunan emisi Indonesia secara nasional, penilaian NKT pada level lansekap Kabupaten Sintang dapat memberikan arahan pembangunan pada areal-areal yang telah terdegradasi dan tetap mempertahankan areal bernilai konservasi tinggi,” pungkasnya. (mus)