Pertukaran tanpa Hitung Nilai Satwa untuk Siasati Populasi Berlebihan Komodo dan Jalak Bali

by / Comments Off on Pertukaran tanpa Hitung Nilai Satwa untuk Siasati Populasi Berlebihan Komodo dan Jalak Bali / 17 View / July 14, 2017

SURYA.co.id | SURABAYA – Koleksi satwa untuk beberapa spesies tertentu di Kebun Binatang Surabaya (KBS) masih minim. Bahkan, saat ini hanya ada satu jerapah dan satu ekor Harimau Sumatera. Di sisi lain, populasi Jalak Bali dan komodo di tempat konservasi di tengah kota ini melimpah.

Informasi terkini, populasi komodo menyentuh 80-an ekor. Ini menjadi salah satu kelebihan KBS, yang mampu menangkarkan atau mengembangbiakkan komodo.

Dengan geografis dan alam Surabaya seperti ini, KBS mampu membuat komodo hidup sehat. Begitu pula dengan Jalak Bali. Burung langka yang berada di sangkar luas ini telah mencapai puluhan ekor.

“Dalam regulasi konservasi satwa, tidak bisa dibenarkan KBS membiarkan over populasi. Harus dilakukan penjarangan,” kata Prasto Wardoyo, Pengurus Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi) Jatim, Kamis (13/7/2017).

Menurutnya, untuk mengurangi populasi satwa itu bisa dilakukan melalui pertukaran satwa dengan lembaga konservasi lain. Namun, itu semua harus tetap memenuhi syarat.

“Pertukaran ini bukan untuk diperjualbelikan, apalagi menjadi komoditas bisnis. Semua harus dalam koridor menyejahterakan satwa,” ujar Prasto.

Ia mencontohkan, saat Lembaga Konservasi (LK) tertentu tak mempunyai komodo sementara KBS over populasi, maka bisa diadakan pertukaran satwa. Namun, tanpa berhitung komodoberapa nilainya.

“Sebab, nilai komodo ini bisa miliaran rupiah. Begitu juga satwa lain punya nilai rupiah tinggi,” tegasnya.

Pertukaran satwa atau pemindahan satwa ke lembaga konservasi lain, lanjut Prasto, lebih berlatar belakang kebutuhan penjarangan. Satwa itu perlu fresh blood agar tak terjadi inbreeding.

Foksi juga menuturkan bahwa KBS pun harus menenuhi standar, terutama kandang. Ada standar luasan kandang dan disesuaikan kebutuhan satwa. Idealnya, kandang terbagi dalam tiga bagian, kandang tidur, kandang berjemur, kandang exhibit, yakni untuk ditonton pengunjung.

 

kuti Prosedur

Terpisah, Kepala Bagian Perekonomian Pemkot Surabaya, Khalid, mengatakan, ada dampak yang kurang baik jika satwa single di KBS tidak segera ditambah jumlahnya. Salah satunya, tidak bisa berkembang biak.

Menurut Khalid, jumlah satwa yang single memang harus ditambah. Selain meningkatkan keberagaman dan edukasi ke masyarakat, juga untuk menyejahterakan satwa.

“Jerapah dan zebra juga capuchin, sudah lama hanya tersisa satu ekor. Kalau terlalu lama kan tidak baik untuk satwanya,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, jerapah sudah single sejak tiga tahun. Untuk zebra, single selama dua bulan dan capuchin sudah single sepuluh tahun.

Pihaknya sudah mengetahui rencana Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) KBS yang akan melakukan pertukaran satwa. Namun, diakui Khalid, prosedur pertukaran satwa cukup rumit.

“Hewan itu kan milik negara. Jadi, kalau hewan mau dikemanakan harus ada izin dari pemerintah. Ada golongannya, seperti apendik harus izin sampai kementerian. Itulah yang selama ini menjadi persoalan,” ucapnya.

Sejauh ini Pemkot selalu mengawal. Salah satunya menjalin komunikasi dengan BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam), sebagai kepanjangan tangan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Harus tetap dilalui prosedur yang ada. Tidak boleh kalau melanggar, apalagi ini lembaga konservasi plat merah,” imbuhnya.

Menurut Khalid, bukan masalah jika PDTS KBS bertukar dengan lembaga konsersi maupun kebun binatang swasta. Ia meminta KBS tidak terburu-buru dan melengkapi persyaratan yang diharuskan, agar tidak salah langkah.

Satwa yang overpopulasi, menurut Khalid, lebih baik jika ditransfer ke lembaga konservasi yang membutuhkan. Agar keberagaman di KBS terjaga dan lebih optimal dalam pengelolaanya.

 

Penulis: Nuraini Faiq & Fatimatuz Zahroh

Source:http://surabaya.tribunnews.com/2017/07/13/pertukaran-tanpa-hitung-nilai-satwa-untuk-siasati-populasi-berlebihan-komodo-dan-jalak-bali?page=2

Related Posts

  • 71
    Johannesburg - Tahun 2015, polisi di ibu kota Mozambik,Maputo, menangkap sekelompok pria dan menyita cula badak, sejumlah besar dolar, segepok mata uang lokal, dan -yang agak tidak biasa- empat karung beras. Dua pria yang ditangkap adalah warga Korea Utara yang mengaku sebagai diplomat yang bertugas di Afrika Selatan. Uang jaminan untuk…
    Tags: yang, dan, di, untuk
  • 56
    Tim Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Macan Tutul, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PamGakkum KLHK) Wilayah Sumatera, kembali membongkar jaringan perdagangan kulit harimau sumatera, Selasa (13/2/2018). Pada penyergapan tersebut, tim mengamankan dua pelaku, yaitu Kata Surbakti dan Meksi. Keduanya warga Kabupaten Langkat, Sumatera…
    Tags: yang, dan, di, untuk, satwa, ada, tidak, ini