Sirip Terhidang, Hiu Menghilang

by / Comments Off on Sirip Terhidang, Hiu Menghilang / 16 View / July 30, 2019

Ribuan Ekor Ditangkap Tiap Bulan, Hiu dan Pari di Ambang Kepunahan. Populasi hiu dan pari semakin terancam. Eksploitasi kedua satwa ini cenderung berlebihan. Di Kalimantan Barat, ribuan ekor hiu dan pari ditangkap setiap bulan demi siripnya yang mahal. 

PAGI itu, Aef (54) tampak sibuk di atas kapalnya yang bersandar di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sungai Kakap, Kubu Raya. Sembari menunggu kedatangan anak buahnya, Aef mengemasi perlengkapan melaut. Mulai dari alat tangkap, bahan bakar, es batu, hingga bahan makanan untuk kebutuhan satu bulan. 

Sore nanti, Aef bersama tiga anak buahnya akan berangkat ke laut lepas. “Semua sudah siap. Tinggal berangkat,” kata Aef saat ditemui Pontianak Post, awal Juni lalu. 

Aef sudah menjadi nelayan selama lebih tiga dekade. Setahun belakangan ini, ia mencoba peruntungan dengan menarget hiu dan pari sebagai tangkapan utama. Sekali melaut, ia menghabiskan waktu rata-rata satu bulan dengan hasil tangkapan berkisar antara satu hingga dua ton.

Aef adalah satu di antara sekian banyak nelayan lain yang secara khusus menangkap hiu dan pari. Mereka menggunakan alat tangkap khas yang disebut ‘gillnet dasar’. Gillnet atau jaring insang adalah jaring ikan dengan bentuk empat persegi panjang. Secara keseluruhan mata jaringnya berukuran sama. Gillnet dasar dioperasikan pada bagian bawah permukaan laut. Alat tangkap tersebut menarget ikan demersal, yakni ikan yang hidup dan makan di dasar laut seperti hiu dan pari.

Tidak terlalu sulit membedakan antara kapal nelayan biasa dengan kapal penangkap hiu dan pari, meski keduanya memiliki bodi yang mirip. Kapal penangkap hiu kebanyakan memanfaatkan alat penarik jaring atau net hauler. Para nelayan di PPI Sungai Kakap menyebut net hauler itu dengan nama ‘robot’. Alat tersebut dipasang tepat di ujung geladak kapal, dilapis dengan dua ban luar. Cara pengoperasiannya dibantu dengan mesin hidrolik. 

Nelayan penangkap hiu dan pari di PPI Sungai Kakap berlayar di sekitar perairan Kalbar hingga Kepulauan Riau. Daerah tangkapan mereka antara lain di Perairan Natuna, Pulau Datok, Pulau Pengikik (perairan Kepulauan Tambelan), Kepulauan Pejantan, Perairan Midai, Pulau Serasan, Anambas, dan Karimata. 

Daerah penangkapan atau fishing ground itu tidak dipilih sembarangan. Selain mengandalkan pengalaman, para nelayan juga memanfaatkan teknologi radar (sonar) dan kompas untuk menentukan daerah tangkapan mereka. Untuk berkomunikasi antarkapal saat di laut, mereka menggunakan radio SSB (radio single sideband).

Cara menjaring ikan hiu dan pari tidak sama dengan jenis ikan lainnya. Jaring untuk menangkap hiu dan pari ini bersifat pasif. Artinya jaring dipasang mati dengan cara direntangkan di dasar perairan dan didiamkan sampai ikan terperangkap, sementara kapal dalam kondisi tidak bergerak. Berbeda dengan jaring lainnya yang dioperasikan aktif mengejar target tangkapan.

“Jaring kapal lain itu bergerak, terus mancari dan menjaring ikan. Sementara jaring kapal penangkap hiu sama pari itu pasif, menunggu ikan masuk ke dalam jaring,” ungkap Aef.

Lantaran bersifat pasif itulah, bahan bakar yang digunakan kapal penangkap hiu dan pari lebih irit bila dibandingkan dengan kapal penangkap ikan lainnya. Dalam sekali berlayar, kapal penangkap hiu dan pari rata-rata menghabiskan solar sekitar satu setengah ton atau tiga tangki.

Saat di lokasi penangkapan, nelayan akan menurunkan jaring hingga ke dasar laut. Biasanya, jaring diturunkan sekitar pukul 15.00. Jaring yang ditebar itu kira-kira sepanjang tiga mil. Proses ini memakan waktu sekitar tiga jam. Setelah jaring ditebar, mesin kapal dimatikan dan jangkar dijatuhkan. 

Jaring baru akan diangkat sekitar pukul lima subuh. Proses menaikkan jaring beserta hasil tangkapannya ini juga memakan waktu sekitar tiga jam. Sambil menunggu jaring dinaikkan, para nelayan biasa menghabiskan waktu dengan berbagai aktivitas. Ada yang memancing, tidur-tiduran atau sekadar mendengarkan musik.

Di PPI Sungai Kakap, sedikitnya ada 50-an kapal yang secara khusus mengincar hiu dan pari sebagai tangkapan utama. Di sana, kapal-kapal yang digunakan seluruhnya berkapasitas di bawah 30 gross ton (GT). 

Enumerator hiu dan pari dari Balai Pengelola Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, M Sabri menuturkan, dalam satu bulan ada sekitar 20-30 kapal yang mendaratkan hasil tangkapannya di PPI Sungai Kakap. Ikan hasil tangkapan didaratkan di dua tempat, yakni di dermaga atau di tangkahan milik pengusaha.

“Ikan yang segar-segar akan dibongkar di dermaga untuk dijual. Sementara ikan dalam kondisi busuk dibongkar dan diolah di tangkahan milik pengusaha,” ungkapnya.

Sabri menyebutkan, ada sekitar tujuh tangkahan yang masih aktif di sekitar Sungai Kakap. 

Di sanalah bagian-bagian tubuh ikan akan dipisahkan, baik tulang, kulit, ataupun dagingnya yang bakal diolah menjadi ikan asin. Menurutnya, seluruh bagian tubuh ikan hiu dan pari dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomis.

BPSPL Pontianak mencatat, sepanjang tahun 2018 di PPI Sungai Kakap, jumlah hiu yang berhasil ditangkap adalah sebanyak 2.016 ekor dan pari 36.707 ekor.  Berat total masing-masing sebesar 33,3 ton dan 682,33 ton. Spesies yang paling banyak tertangkap adalah pari kemejan. 

Selain itu, jenis pari yang juga biasa terjaring adalah pari bintang, pari kelelawar, dan pari burung. Sedangkan untuk hiu, jenis yang kerap terjaring adalah hiu kejen, hiu bujit, hiu mungsing jara, dan hiu monas.

Pemanfaatan hiu dan pari sebenarnya sudah diatur oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Saat ini sedikitnya ada 118 jenis hiu dan pari yang telah teridentifikasi di perairan Indonesia. Tidak semuanya dilarang ditangkap atau diperdagangkan. 

Dari total 118 jenis tersebut, beberapa jenis memang telah ditetapkan status perlindungannya oleh kementerian yang dipimpin oleh Susi Pudjiastuti. KKP menetapkan pari gergaji, hiu paus, dan hiu tikus dalam status perlindungan penuh. Artinya tidak diperbolehkan untuk dimanfaatkan sama sekali. 

Ada pula spesies yang termasuk dalam status perlindungan terbatas atau tidak boleh diekspor misalnya pari manta, pari mobula, hiu koboi, hiu martil, dan hiu lanjaman. Para nelayan penangkap hiu dan pari agaknya sudah mengetahui bahwa ada spesies-spesies tertentu yang dilindungi oleh pemerintah. 

Menurut Poniran (35), seorang nelayan di PPI Sungai Kakap, bila ada spesies yang dilindungi itu tertangkap maka nelayan akan melepaskannya kembali. “Kalau (jenis) yang dilarang (perlindungan penuh) tertangkap, kami tidak berani ambil. Sedangkan jenis yang statusnya perlindungan terbatas itu jumlahnya sedikit, dan sangat jarang didapat,” katanya.

Selain KKP, pemanfaatan terhadap hiu dan pari juga diatur secara internasional melalui Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam. Indonesia telah meratifikasi CITES melalui Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978.

CITES mengelompokkan pemanfaatan komoditas menjadi tiga apendiks yaitu apendiks I untuk perlindungan penuh, apendiks II untuk pembatasan dengan kuota, dan apendiks III untuk pencatatan setiap pemanfaatan. Jenis yang masuk dalam apendiks I hingga saat ini adalah pari gergaji. Sementara untuk apendiks II, di antaranya adalah hiu paus, pari manta, hiu martil, hiu tikus, pari mobula, hiu lanjaman, hiu koboi, dan hiu kejen.

Eksploitasi yang berlebihan dikhawatirkan dapat mengancam kelestarian hiu dan pari di perairan Indonesia. Terlebih lagi ada beberapa spesies memiliki produktivitas rendah atau perkembangbiakannya lamban. 

Dosen Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak, Sadri, mengatakan, salah satu spesies yang terancam yaitu pari kemejan. Spesies ini menjadi yang paling banyak tertangkap nelayan Kalbar sehingga populasinya menurun tajam. “Karena itulah, jenis kemejan ini diusulkan untuk dinaikkan statusnya menjadi Apendiks II guna menekan penangkapan, serta penjualannya,” kata dia. 

Bycatch and Shark Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Ariyoga Gautama, mengatakan, penurunan populasi hiu dan pari terjadi akibat eksploitasi yang berlebihan. Hal ini didorong oleh tingginya permintaan akan produk-produk satwa tersebut, seperti sirip, dan daging. 

Produksi hiu nasional antara tahun 2000 dan 2014 tercatat mengalami penurunan sebesar 28,30 persen. Pada tahun 2014, Indonesia masih menjadi negara produsen hiu terbesar di dunia dengan kontribusi sebesar 16,8 persen dari total tangkapan dunia. “Berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature) setidaknya 35 persen jenis hiu dan pari terancam punah,” katanya.

Hiu dan pari di Indonesia, tambah dia, saat ini berada dalam kondisi kritis, baik spesies yang hidup daerah terumbu karang maupun di wilayah samudera. Populasi keduanya telah jauh menurun. “Spesies hiu, pari, dan chimera terancam punah karena penangkapan ikan yang berlebihan, baik dengan sengaja maupun tidak,” pungkasnya.  (Siti Sulbiyah Kurniasih/Haryadi)

sumber: pontianakpost.co.id

Related Posts

  • 79
    EKSPLOITASI secara berlebihan terhadap hiu dan pari diyakini akan mengancam kelestarian hewan tersebut. Regulasi yang ditetapkan oleh kementerian kelautan dan perikanan (KKP) terhadap perdagangan kedua hewan laut tersebut, agaknya perlu disokong melalui peraturan daerah (Perda). Lalu lintas perdagangan (Hiu dan Paus) sebenarnya bisa dibuatkan regulasinya ditingkat daerah melalui perda,” ungkap…
    Tags: hiu, dan, yang, pari, di
  • 67
    Mungkin banyak dari kita sudah tahu bahwa hiu mengintai dan mengendus-endus mangsanya sebelum mereka menyerang mangsanya dengan cepat dan memangsanya dengan brutal. Tetapi, spesies hiu yang baru ditemukan ini mempunyai cara aneh untuk menangkap mangsanya, yakni mengeluarkan cahaya dalam kegelapan lautan, dan mangsa akan mendatangi mereka. Hiu spesies baru sepanjang…
    Tags: yang, hiu, di, dan, dengan