TFCA Kalimantan Bersama Mitra Mendukung Suksesnya Kongres Dayak Internasional 2017

by / Comments Off on TFCA Kalimantan Bersama Mitra Mendukung Suksesnya Kongres Dayak Internasional 2017 / 39 View / July 24, 2017

Pontianak – Kalimantan barat sedang menggelar kongres adat Internasional yang pertama. Kongres adat dayak saat ini dihadiri tidak hanya dari Indonesia saja tetapi juga dihadiri oleh negara-negara tetangga dengan tema “Merajut Benang-Benang Peradaban Dayak Dalam Struktur Zaman Yang Dinamis” dan sub tema “Penguatan Peranan Bangsa Dayak Menuju Epicentrum Pembangunan Sosial dan Budaya, Ekonomi, Bisnis Dan Keuangan dan Politik”. Kongres adat internasional diselenggarakan di pontianak dari tanggal 23-27 Juli 2017. Dengan rangkaian kegiatan pameran (exibition) di rumah radakng dari tanggal 23-27 Juli 2017, dan kegiatan kongres dari tanggal 25-27 Juli 2017 di hotel Kapuas palace Pontianak. Kegiatan ini di buka secara langsung oleh Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Kalbar yang juga sekaligus sebagai Gubernur Kalimantan barat, Drs. Cornelis, M.H.

Muhammad Syukur Wahyu Putra sedang menjelaskan kepada Gubernur Kalbar yang juga Presiden MADN Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak, tentang keterancaman habitat dan spesies burung enggang gading di Kalimantan barat dalam kunjungan Presiden MADN ke stand pameran TFCA di Rumah Radakng, Pontianak, Minggu (24/07/2017)

Dalam rangka mendukung suksesnya kongres dayak Internasional, Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan – Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) bersama mitra (Yayasan Titian Lestari, Internasional Animal Rescue (IAR), Yayasan Diantama dan JARI Indonesia) ikut serta dalam kegiatan pameran (exibition). Dalam kegiatan ini TFCA bersama mitra meng-explore tentang beberapa program kerja dan produk-produk produksi yang bersumber dari masyarakat dampingan mitra kerja TFCA. Beberapa hasil penelitian mitra dari TFCA juga turut di pamerkan dalam kegiatan ini.

Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Kalbar, Drs. Cornelis, M.H. Dalam kunjungan ke stand pameran Yayasan Titian, Muhammad Syukur Wahyu Putra dari Yayasan Titian Lestari mengatakan dalam pameran ini kami menekankan tentang perlindungan terhadap satwa liar dilindungi, khususnya enggang gading. Saat ini habitat dan spesies burung enggang gading memiliki ancaman yang cukup tinggi. Apabila burung enggang itu sudah semakin punah maka kebudayaan itu menjadi hilang, karena paruh enggang tidak lepas dari simbol dari kebudayaan-kebudayaan dayak. Selain itu paruh burung enggang gading juga merupakan maskot dari Kalimantan barat. (rga)

Related Posts

  • 59
    Johannesburg - Tahun 2015, polisi di ibu kota Mozambik,Maputo, menangkap sekelompok pria dan menyita cula badak, sejumlah besar dolar, segepok mata uang lokal, dan -yang agak tidak biasa- empat karung beras. Dua pria yang ditangkap adalah warga Korea Utara yang mengaku sebagai diplomat yang bertugas di Afrika Selatan. Uang jaminan untuk…
    Tags: yang, dan, di
  • 51
    Dunia kehilangan hampir 150.000 individu orangutan dari Pulau Kalimantan dalam 16 tahun terakhir akibat hilangnya habitat dan pembunuhan. Berikutnya, diperkirakan, kita akan kembali kehilangan 45.000 individu lainnya pada 2050, berdasarkan studi di Jurnal Current Biology. Penelitian yang dipublikasikan 15 Februari 2018 ini, mengamati 36.555 sarang orangutan di seluruh Kalimantan -sebuah pulau yang…
    Tags: di, dan, yang, kalimantan, ini, dari